Sabtu, 08 September 2012

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2009


KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 24 TAHUN 2009

TENTANG

PENGESAHAN ANGGARAN DASAR
GERAKAN PRAMUKA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang        :     a.   bahwa dalam rangka meningkatkan peranan Gerakan Pramuka diperlukan Anggaran Dasar yang mencerminkan aspirasi, visi, dan misi seluruh Gerakan Pramuka Indonesia, sehingga secara efektif dapat dijadikan landasan kerja Gerakan Pramuka Indonesia;
                                 b.   bahwa untuk mewujudkan upaya sebagaimana dimaksud pada huruf a, telah dilaksanakan penyempurnaan atas Anggaran Dasar Gerakan Pramuka melalui pembahasan dalam Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka yang berlangsung dari tanggal 15 sampai dengan 18 Desember 2008 di Cibubur, Jakarta;
                                 c.   bahwa  sehubungan dengan hal-hal sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, dipandang perlu mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dihasilkan dan ditetapkan dalam Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka pada tanggal 15 sampai dengan 18 Desember 2008 di Cibubur, Jakarta, dengan Keputusan Presiden;

Mengingat          :     Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
                           
MEMUTUSKAN :

Menetapkan        :    KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENGESAHAN ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA.

Pasal 1

Mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka sebagaimana terlampir dalam Keputusan Presiden ini.

Pasal 2

(1)   Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan pendanaan dalam rangka pelaksanaan kegiatan Gerakan Pramuka.
(2)   Bantuan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara cq. Kementerian Negara yang bertanggung jawab di bidang kepemudaan dan olah raga.
(3)   Bantuan Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Pasal 3
Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini, maka Keputusan Presiden Nomor 104 Tahun 2004 tentang Pengesahan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 4

Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

                                                                        Ditetapkan di Jakarta
                                                                        pada tanggal 15 September 2009                   
                                                                        PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
                                                                                                           
                                                                                                              ttd    

                                                                        Dr. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

LAMPIRAN
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 24 Tahun 2009
TANGGAL : 15 September 2009

ANGGARAN DASAR GERAKAN PRAMUKA

PEMBUKAAN

Bahwa persatuan dan kesatuan bangsa dalam negara kesatuan yang adil dan makmur, materiil dan spiritual serta beradab merupakan adicita bangsa Indonesia yang mulai bangkit dan siaga sejak berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Adicita itu pulalah yang merupakan dorongan para Pemuda Indonesia melakukan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Untuk lebih menggalang persatuan merebut kemerdekaan, dan dengan jiwa dan semangat Sumpah Pemuda inilah Rakyat Indonesia berjuang untuk kemerdekaan nusa dan bangsa Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Kemerdekaan ini merupakan karunia dan berkah rahmat Tuhan Yang Maha Esa.
Bahwa gerakan kepanduan nasional yang lahir dan mengakar di bumi nusantara merupakan bagian terpadu dari gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karenanya, gerakan kepanduan nasional Indonesia mempunyai andil yang tidak ternilai dalam sejarah perjuangan kemerdekaan itu. Jiwa kesatria yang patriotik telah mengantarkan para pandu ke medan juang bahu-membahu dengan para pemuda untuk mewujudkan adicita rakyat Indonesia dalam menegakkan dan mandegani Negara Kesatuan Republik Indonesia selama-lamanya.
Bahwa kaum muda sebagai potensi bangsa dalam menjaga kelangsungan bangsa dan negara mempunyai kewajiban melanjutkan perjuangan bersama-sama orang dewasa berdasarkan kemitraan yang bertanggung jawab.
Bahwa Gerakan Pramuka, sebagai kelanjutan dan pembaruan gerakan kepanduan nasional, dibentuk karena dorongan kesadaran bertanggung jawab atas kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dengan asas Pancasila, Gerakan Pramuka menyelenggarakan upaya pendidikan bagi kaum muda melalui kepramukaan, dengan sasaran meningkatkan sumber daya kaum muda, mewujudkan masyarakat madani, dan melestarikan keutuhan:
- negara kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika;
- ideologi Pancasila;
- kehidupan rakyat yang rukun dan damai;
- lingkungan hidup di bumi nusantara.
Bahwa dalam upaya meningkatkan dan melestarikan hal-hal tersebut, Gerakan Pramuka menyelenggarakan pendidikan nonformal, melalui kepramukaan, sebagai bagian pendidikan nasional dilandasi Sistem Among dengan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan.
Atas dasar pertimbangan dan makna yang terkandung dalam uraian di atas, maka disusunlah anggaran dasar Gerakan Pramuka.
ANGGARAN DASAR

BAB I
NAMA, STATUS, TEMPAT, DAN WAKTU

Pasal 1
Nama, Status, dan Tempat
(1)   Organisasi ini bernama Gerakan Pramuka yaitu Gerakan Kepanduan Praja Muda Karana.
(2)   Gerakan Pramuka adalah organisasi pendidikan yang berstatus badan hukum.
(3)   Gerakan Pramuka berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.

Pasal 2
Waktu
(1)         Gerakan Pramuka didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan dan ditetapkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961 tanggal 20 Mei 1961, sebagai kelanjutan dan pembaruan gerakan kepanduan nasional Indonesia.
(2)         Hari Pramuka adalah tanggal 14 Agustus.

BAB II
ASAS, TUJUAN, TUGAS POKOK, DAN FUNGSI

Pasal 3
Gerakan Pramuka berasaskan Pancasila.

Pasal 4
Tujuan
Gerakan Pramuka mendidik dan membina kaum muda Indonesia guna mengembangkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga menjadi :
a.      Manusia berwatak, kepribadian, dan berbudi pekerti luhur yang :
1) Tinggi moral, spiritual, kuat mental, sosial, intelektual, emosional dan fisiknya;
2) Tinggi kecerdasan dan mutu keterampilannya;
3) Kuat dan sehat jasmaninya.
b.      Warga negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Keatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sediri secara mandiri serta bersam-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan, baik lokal, nasional, maupun internasional.

Pasal 5
Tugas Pokok
Gerakan Pramuka mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kepramukaan bagi kaum muda guna menumbuhkan tunas bangsa agar menjadi generasi yang lebih baik, bertanggungjawab, mampu membina dan mengisi kemerdekaan nasional serta membangun dunia yang lebih baik.

Pasal 6
Fungsi
Gerakan Pramuka berfungsi sebagai organisasi pendidikan non formal, di luar sekolah dan di luar keluarga, dan sebagai wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda berlandaskan Sistem Among dengan menerapkan Prinsip Dasar Kepramukaan, Metode Kepramukaan, dan Motto Gerakan Pramuka yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan bangsa serta masyarakat Indonesia.

BAB III
SIFAT, UPAYA, DAN USAHA

Pasal 7
Sifat
(1)         Gerakan Pramuka adalah Organisasi kepanduan nasional Indonesia sebagai lembaga pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan kepramukaan.
(2)         Gerakan Pramuka adalah organisasi pendidikan yang keanggotaannya bersifat sukarela, tidak membedakan suku, ras, golongan, dan agama.
(3)         Gerakan Pramuka bukan organisasi kekuatan sosial-politik, bukan bagian dari salah satu organisasi kekuatan sosial-politik dan tidak menjalankan kegiatan politik praktis.
(4)         Gerakan Pramuka ikut serta membantu masyarakat dengan melaksanakan pendidikan bagi kaum muda, khususnya pendidikan non formal di luar sekolah dan di luar keluarga.
(5)         Gerakan Pramuka menjamin kemerdekaan tiap-tiap anggotanya untuk memeluk agama dan kepercayaan masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

Pasal 8
Upaya dan Usaha
(1)         Segala upaya dan usaha Gerakan Pramuka diarahkan untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka.
(2)         Upaya dan usaha untuk mencapaai tujuan itu diarahkan pada pembinaan watak, mental, emosional, jasmani, dan bakat serta peningkatan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan dan kecakapan melalui berbagai kegiatan kepramukaan.
(3)         Untuk menunjang upaya dan usaha serta mencapai tujuan Gerakan Pramuka, diadakan prasarana dan sarana yang memadai berupa organisasi, personalia, perlengkapan, dana, komunikasi, dan kerjasama.

BAB IV
SISTEM AMONG, PRINSIP DASAR KEPRAMUKAAN,
KODE KEHORMATAN, METODE KEPRAMUKAAN, MOTTO
DAN KIASAN DASAR GERAKAN PRAMUKA

Pasal 9
Sistem Among
(1)         Sistem pendidikan dalam Gerakan Pramuka berlandaskan Sistem Among.
(2)         Sistem Among merupakan proses pendidikan yang memberntuk anggota Gerakan Pramuka berjiwa merdeka, disiplin, dan mandiri dalam kerangka saling ketergantungan antar manusia.
(3)         Pelaksanaan sistem Among menerapkan prinsip kepemimpinan :
a. Ing ngarso sung tulodo;
b. Ing madyo mangun karso;
c. Tut wuri handayani.

Pasal 10
Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan
(1)         Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan merupakan ciri khas yang membedakan kepramukaan dari pendidikan lain.
(2)         Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan merupakan dua unsur proses pendidikan terpadu yang harus diterapkan dalam setiap kegiatan.
(3)         Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan dilaksanakan sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, situasi, dan kondisi masyarakat.

Pasal 11
Prinsip Dasar Kepramukaan
(1)         Prinsip Dasar Kepramukaan meliputi nilai dan norma dalam kehidupan seluruh anggota Gerakan Pramuka.
(2)         Nilai dan norma dimaksud mencakup :
a. iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya;
c. peduli terhadap diri pribadinya;
d. taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.
(3)         Prinsip Dasar Kepramukaan berfungsi sebagai :
a.      norma hidup seorang anggota Gerakan Pramuka;
b.      landasan Kode Etik Gerakan Pramuka;
c.      landasan sistem nilai Gerakan Pramuka;
d.      pedoman dan arah pembinaan kaum muda anggota Gerakan Pramuka;
e.      landasan gerak dan kegiatan Gerakan Pramuka mencapai sasaran dan tujuannya.

Pasal 12
Metode Kepramukaan
Metode Kepramukaan merupakan cara belajar interaktif progresif melalui :
a.      pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
b.      belajar sambil melakukan;
c.      sistem beregu;
d.      kegiatan di alam terbuka yang mengandung pendidikan dan sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik;
e.      kemitraan dengan anggota dewasa dalam setiap kegiatan;
f.        sistem tanda kecakapan;
g.      sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;
h.      kiasan dasar.

Pasal 13
Kode Kehormatan Pramuka
(1)         Kode Kehormatan Pramuka yang terdiri atas Janji yang disebut Satya dan Ketentuan Moral yang disebut Darma merupakan satu unsur dari Metode Kepramukaan dan alat pelaksanaan Prinsip Dasar Kepramukaan.
(2)         Kode Kehormatan Pramuka merupakan Kode Etik anggota Gerakan Pramuka baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat sehari-hari yang diterimanya dengan sukarela serta ditaati demi kehormatan dirinya.
(3)         Kode Kehormatan Pramuka bagi anggota Gerakan Pramuka disesuaikan dengan golongan usia dan perkembangan rohani dan jasmaninya yaitu :
a.      Kode Kehormatan Pramuka Siaga terdiri atas Dwisatya dan Dwidarma;
b.      Kode Kehormatan Pramuka Penggalang terdiri atas Trisatya Pramuka Penggalang dan Dasadarma;
c.      Kode Kehormatan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega terdiri atas Trisatya Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega dan Dasadarma;
d.      Kode Kehormatan Pramuka Dewasa terdiri atas Trisatya Anggota Dewasa dan Dasadarma.

Pasal 14
Motto Gerakan Pramuka
(1)         Motto Gerakan Pramuka merupakan bagian terpadu proses pendidikan untuk mengingatkan setiap anggota Gerakan Pramuka bahwa setiap mengikuti kegiatan berarti mempersiapkan diri untuk mengamalkan Kode Kehormatan.
(2)         Motto Gerakan Pramuka adalah : “Satyaku kudarmakan, Darmaku kubaktikan.”

Pasal 15
Kiasan Dasar
Penyelenggaraan kepramukaan dikemas dengan menggunakan Kiasan Dasar yang
bersumber pada sejarah perjuangan dan budaya bangsa.

BAB V
ORGANISASI

Pasal 16
Anggota
(1)         Anggota Gerakan Pramuka adalah warga negara Republik Indonesia yang terdiri atas :
a. Anggota biasa :
1)            Anggota muda : Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega.
2)            Anggota dewasa : Pembina Pramuka, Pembantu Pembina Pramuka, Pelatih Pembina Pramuka, Pembina Profesional, Pamong Saka, Instruktur Saka, Pimpinan Saka, Andalan, Pembantu Andalan, Anggota Majelis Pembimbing.
b. Anggota kehormatan : orang-orang yang bersimpati dan berjasa kepada Gerakan Pramuka.
(2)         Warga negara asing dapat bergabung dalam suatu gugusdepan sebagai anggota tamu.

Pasal 17
Hak dan Kewajiban
(1)         Setiap anggota mempunyai hak dan kewajiban.
(2)         Hak dan kewajiban tersebut akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.

Pasal 18
Pramuka Utama
Kepala Negara Republik Indonesia adalah Pramuka Utama.

Pasal 19
Jenjang Organisasi
Organisasi Gerakan Pramuka berjenjang sebagai berikut :
a.      Anggota muda Gerakan Pramuka dihimpun dalam gugusdepan dan anggota dewasa dihimpun di Kwartir.
b.      Gugusdepan-gugusdepan dikoordinasikan oleh Kwartir Ranting yang meliputi suatu wilayah Kecamatan/Distrik.
c.      Ranting-ranting dihimpun dan dikoordinasikan oleh Kwartir Cabang yang meliputi wilayah Kabupaten/Kota.
d.      Cabang-cabang dihimpun dan dikoordinasikan oleh Kwartir Daerah yang meliputi wilayah Propinsi.
e.      Daerah-daerah dihimpun dan dikoordinasikan oleh Kwartir Nasional yang meliputi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
f.        Di perwakilan Republik Indonesia di luar negeri dapat dibentuk gugusdepan di bawah pembinaan Kwartir Nasional.

Pasal 20
Kepengurusan
(1)   Di tingkat Gugusdepan, Gerakan Pramuka dipimpin oleh pembina gugusdepan.
(2)   Di tingkat Ranting, Gerakan Pramuka dipimpin secara kolektif oleh Pengurus Kwartir Ranting.
(3)   Di tingkat Cabang, Gerakan Pramuka dipimpin secara kolektif oleh Pengurus Kwartir Cabang.
(4)   Di tingkat Daerah, Gerakan Pramuka dipimpin secara kolektif oleh Pengurus Kwartir Daerah.
(5)   Di tingkat Nasional, Gerakan Pramuka dipimpin secara kolektif oleh Pengurus Kwartir Nasional.
(6)   Pergantian Pengurus Gerakan Pramuka dilaksanakan pada waktu musyawarah.
(7)   Kepengurusan baru dalam jajaran Ranting sampai dengan Nasional terdiri dari unsur Pengurus lama dan Pengurus baru.

Pasal 21
Satuan Karya Pramuka
(1)   Satuan Karya Pramuka disingkat Saka, adalah wadah pendidikan guna menyalurkan minat, mengembangkan bakat, dan pengalaman para Pramuka dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Saka juga memotivasi mereka untuk melaksanakan kegiatan nyata dan produktif sehingga memberi bekal bagi kehidupannya, untuk melaksanakan pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara, sesuai dengan aspirasi pemuda Indonesia dan tuntutan perkembangan pembangunan dalam rangka peningkatan ketahanan nasional.
(2)   Saka di tingkat Kwartir dipimpin secara kolektif oleh Pimpinan Saka.
Pimpinan Saka adalah bagian integral dari Kwartir.

Pasal 22
Dewan Kerja
Dewan Kerja merupakan bagian integral dari Kwartir yang berfungsi sebagai wahana kaderisasi kepemimpinan, dan bertugas mengelola kegiatan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega.

Pasal 23
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Pramuka
(1)   Pusat Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Pramuka merupakan bagian integral dari kwartir dan berfungsi sebagai wadah pendidikan dan pelatihan anggota Gerakan Pramuka.
(2)   Pusat Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Pramuka berada di tingkat cabang, daerah, dan nasional.

Pasal 24
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gerakan Pramuka
(1)   Pusat Penelitian dan Pengembangan Gerakan Pramuka merupakan bagian integral kwartir dan berfungsi sebagai wadah penelitian dan pengembangan Gerakan Pramuka.
(2)   Pusat Penelitian dan Pengembangan Gerakan Pramuka berada di tingkat daerah dan nasional.

Pasal 25
Bimbingan
(1)         Kwartir Nasional diberi bimbingan dan bantuan yang bersifat moral, organisatoris, materiil, dan finansial oleh Majelis Pembimbing Nasional yang diketuai oleh Presiden Republik Indonesia dengan beranggotakan pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat yang memiliki perhatian dan kepedulian kepada Gerakan Pramuka.
(2)         Kwartir Daerah diberi bimbingan dan bantuan yang bersifat moral, organisatoris, materiil, dan finansial oleh Majelis Pembimbing Daerah yang diketuai oleh Gubernur dengan beranggotakan pejabat pemerintah daerah dan tokoh masyarakat yang memiliki perhatian dan kepedulian kepada Gerakan Pramuka.
(3)         Kwartir Cabang diberi bimbingan dan bantuan yang bersifat moral, organisatoris, materiil, dan finansial oleh Majelis Pembimbing Cabang yang diketuai oleh Bupati/Walikota dengan beranggotakan pejabat pemerintah kabupaten/kota dan tokoh masyarakat yang memiliki perhatian dan kepedulian kepada Gerakan Pramuka.
(4)         Kwartir Ranting diberi bimbingan dan bantuan yang bersifat moral, organisatoris, materiil, dan finansial oleh Majelis Pembimbing Ranting yang diketuai oleh Camat/Kepala Distrik dengan beranggotakan pejabat pemerintah kecamatan/distrik dan tokoh masyarakat yang memiliki perhatian dan kepedulian kepada Gerakan Pramuka.
(5)         Gugusdepan diberi bimbingan dalam bentuk nasehat tentang organisasi dan program serta bantuan materi dan keuangan oleh Majelis Pembimbing Gugusdepan yang diketuai oleh seorang Ketua yang dipilih dari dan oleh anggota dengan beranggotakan orang tua anggota muda dan tokoh masyarakat di lingkungan Gugusdepan.
(6)         Satuan Karya Pramuka diberi bimbingan dalam bentuk nasehat tentang organisasi dan program serta bantuan materi dan keuangan oleh Mejelis Pembimbing Saka yang diketuai oleh seorang Ketua yang dipilih dari dan oleh anggota dengan beranggotakan pejabat pemerintah dan/atau pemerintah daerah dan tokoh masyarakat.

Pasal 26
Pemeriksaan Keuangan
(1)         Lembaga Pemeriksa Keuangan Gerakan Pramuka adalah lembaga independen yang dibentuk Musyawarah Gerakan Pramuka dan bertanggungjawab kepada Musyawarah Gerakan Pramuka.
(2)         Lembaga Pemeriksa Keuangan berfungsi mengawasi dan memeriksa keuangan Kwartir.
(3)   a.     Personalia Lembaga Pemeriksa Keuangan terdiri atas 5 (lima) orang anggota Gerakan Pramuka ditambah seorang staf yang memiliki kompetensi dalam bidang keuangan.
b.   Lembaga Pemeriksa Keuangan dibantu oleh Akuntan Publik.
(4)     Lembaga Pemeriksa Keuangan diatur lebih lanjut dalam Petunjuk Penyelenggaraan.

BAB VI
MUSYAWARAH DAN REFERENDUM

Pasal 27
Musyawarah
(1)         Musyawarah Gerakan Pramuka adalah forum tertinggi dalam Gerakan Pramuka, di tingkat kwartir/satuan/gudep.
(2)         Musyawarah Gerakan Pramuka di tingkat nasional, daerah, dan cabang diselenggarakan 5 (lima) tahun sekali.
(3)         Musyawarah Gerakan Pramuka di tingkat ranting dan gugusdepan diselenggarakan 3 (tiga) tahun sekali.
(4)         Pimpinan Musyawarah Gerakan Pramuka adalah suatu presidium yang dipilih oleh musyawarah tersebut.
(5)         Acara pokok dan ketentuan lain dalam Musyawarah Gerakan Pramuka diatur dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.

Pasal 28
Referendum
Dalam menghadapi hal-hal yang luar biasa, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dapat menyelenggarakan suatu referendum.

BAB VII
PENDAPATAN DAN KEKAYAAN

Pasal 29
Pendapatan
Pendapatan Gerakan Pramuka diperoleh dari:
a.      Iuran anggota;
b.      Bantuan majelis pembimbing;
c.      Sumbangan masyarakat yang tidak mengikat
d.      Bantuan Pemerintah/Pemerintah daerah melalui APBN/APBD yang tidak mengikat dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara/keuangan daerah;
e.      Sumber lain yang tidak bertentangan, baik dengan peraturan perundangundangan maupun dengan Kode Kehormatan Pramuka;
f.        Usaha dana, badan usaha/koperasi yang dimiliki Gerakan Pramuka.

Pasal 30
Kekayaan
(1)   Kekayaan Gerakan Pramuka terdiri dari barang bergerak dan tidak bergerak serta hak milik intelektual.
(2)   Pengalihan kekayaan Gerakan Pramuka yang berupa aset tetap harus diputuskan berdasarkan hasil Rapat Pleno Pengurus Kwartir dan persetujuan Mabi.

BAB VIII
ATRIBUT

Pasal 31
Lambang
Lambang Gerakan Pramuka adalah tunas kelapa.

Pasal 32
Bendera
Bendera Gerakan Pramuka berbentuk empat persegi panjang, berukuran tiga banding dua, warna dasar putih dengan lambang Gerakan Pramuka di tengah berwarna merah, di atas dan di bawah lambang Gerakan Pramuka terdapat garis merah sepanjang “panjang bendera” dan di sisi tiang terdapat garis merah sepanjang “lebar bendera”.

Pasal 33
Panji
Panji Gerakan Pramuka adalah Panji Gerakan Pendidikan Kepanduan Nasional Indonesia yang dianugerahkan oleh Presiden Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 448 Tahun 1961, tanggal 14 Agustus 1961.

Pasal 34
Himne
Himne Gerakan Pramuka adalah lagu Satya Darma Pramuka.

Pasal 35
Pakaian Seragam dan Tanda-tanda
Untuk mempererat rasa persatuan dan kesatuan serta meningkatkan disiplin, anggota Gerakan Pramuka menggunakan pakaian seragam beserta tanda-tandanya.

BAB IX
ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pasal 36
Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka
(1)         Anggaran Dasar Gerakan Pramuka ini dijabarkan lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
(2)         Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka ditetapkan oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka.

BAB X
PEMBUBARAN

Pasal 37
Pembubaran
(1) a. Gerakan Pramuka hanya dapat dibubarkan oleh Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka yang khusus diadakan untuk itu.
b. Musyawarah Nasional tersebut harus diusulkan oleh sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah daerah.
c. Musyawarah Nasional untuk membicarakan usul pembubaran Gerakan Pramuka dinyatakan sah jika dihadiri oleh utusan dari sekurangkurangnya dua pertiga jumlah daerah.
d. Usul pembubaran Gerakan Pramuka diterima oleh Musyawarah Nasional jika disetujui dengan suara bulat.
(2)     Jika Gerakan Pramuka dibubarkan, maka cara penyelesaian harta benda milik Gerakan Pramuka ditetapkan oleh Musyawarah Nasional yang mengusulkan pembubaran itu.

BAB XI
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR

Pasal 38
Perubahan Anggaran Dasar
(1)         Perubahan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka hanya dapat dilakukan dalam Musyawarah Nasional yang dihadiri oleh utusan daerah sekurang-kurangnya dua pertiga jumlah daerah.
(2)         Usul perubahan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka diterima oleh Musyawarah Nasional jika disetujui oleh sekurang-kurangnya tiga perempat dari jumlah suara yang hadir.

BAB XII
PENUTUP

Pasal 39
Penutup
Anggaran Dasar ini ditetapkan oleh Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka yang diselenggarakan di Komplek Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur Jakarta pada tanggal 15 sampai dengan 18 Desember 2008.

Jakarta, 18 Desember 2008
Presidium Munas Gerakan Pramuka Tahun 2008,

Ketua
ttd,
Dr. Amoroso Katamsi, Sp.KJ, MM

Sekretaris                                                                     Anggota
ttd,                                                                                 ttd,
Ir. M. Arfandy Idris                                              Prof. DR. Ir. H. Isril Berd, SU

Anggota                                                                        Anggota
ttd,                                                                                 ttd,
Yoseph Pangkur Soong, SH                             Drs. H. Adang Rukhiyat, M.Pd

Khutbah Nikah Bahasa Sunda


23 nov 2011

Khutbah Nikah Bahasa Sunda

Puji anu jadi panghias ati, Fuja anu jadi panghias rasa, Fuji urang sungkeun ka Gusti nu maha suci nyaeta Alloh Robbul Izzati, fuja urang sanggakeun kanu maha kawasa nyaeta Alloh Azza Wazalla,anu mana nitih wanci anu mustari ninggang dina mangsa anu lugina,taqdir tetiasa dipungkir Qadar teutiasa di singlar urang sadayana dina wengi nu ayeuna tiasa riung mungpulung patepung lawung paamprok jenghok, pateupang wajah dina haflah mubarokah nu mudah-mudahan ieu riungan sing di janteunkeun ku Alloh,sing dicatetnkeun dina hiji kasaean kin di yaumal Qiyamah. Amiin ya Alloh ya robbal ‘Alamin……

Teu hilap solawat siraneung salam mugia sing dikocorkeun, dikucurkeun, oge di kecerkeun ka jungjunan urang sadayana anu pang nyongcolangna sa alam marca pada ya’ni Habibana, wanabiyana Muhammad SAW. oge kulawargina, shoabatna tabi’in sareng tabi’atna tug dugi ka urang sadayana anu hadir dina ieu tempat mudah-mudahan kenging syafa’atna kin di yaumal Qiyamah.
Amiin ya Alloh ya robbal ‘Alamin……

Para hadirin rohimakumulloh..!
Sateacana simkuring ngabahas masalah anu aya patula-patali, pakuat- pakait dugika pajeujeutna jeng masalah nikah mangga urang leuyeupan heula dauhan Alloh dina al-Qur’an anu unggelna :

“jeng geus nyiptakeun kami ka maraneh kabeh barina sa jodo-sajodo”

Tegesnamah aya langit aya bumi, aya beurang aya peuting, aya caang aya poek, aya jangkung aya pendek aya mancung aya pesek, nyakitu deui aya lalaki aya awewe. Intinamah Alloh nyiptakeun ka makhlukna teh pasang-pasangan, dua-dua.Bahkan jikalau kita tela’ah organ tubuh urang oge namina teh dua-dua. Anu pang hanapna namina ku…ku..naek kaluhur namina ping…ping, tatangga ping-ping namina tit…tit naek deui kaluhur namina da…da…, tatangga da-da namina su..su… luhureun susu namina tak…tak… naek deui kaluhur namina pi…pi… tah ieu nu terahir (bari nunjuk kana tarang) namina nong…nong..
jadi atu tetela pisan yen Alloh nyptakeun makhlukna teh sajodo-sajodo,
pasang-pasangan, dua-dua, dugina ka nami-namina

Hadirin rohimakumulloh...!”
Lamun urang ngabahas nikah minimalna bakal aya opat pertarosan.
1. Naon ngaran nikah..?
2. Saha anu kudu nikah...?
3. Kasaha kudu nikah,,,?
4. Naon bae langkah-langkah saba’da nikah...?

Maka ieu khutbah ku simkuring dibagi jadi opat babak tidak besambung
Babak kahiji : naon ari ngaran nikah ?
jawab : anu mana ngaran nikah teh mun ceuk bahasa santrimah ta’rif nikah mun ceuk nusakola mah definisi nikah ?
Definisi ieu ka bagi dua :
1. Secara Ethimologi (lughowi)
2. Secara Terminologi (istilah)

Para hadirin rohimakumulloh....!”
Nikah secara Lughowi tos ka uninga kusadayana dina kitab-kitab fiqih nyaeta :

“kadar-kadar kumpul”
Ngaran nikah secara istilah nyaeta :
Tapi saur pamuda mah nikah teh singkatan tina Nun (Ni’mat) Kaf (Karasa) Ha (Haneut).
Jadi nikah teh atuh  singkatan tina ni’mat karasa haneut.
Tapi saur sepuhmah : Nun (Ni’mat)... kitu oge ceunah... cek bapana budak.
Da anu sing jareuntul didieu oge tina hasilna tina nikmatna nikah, da niat mah da lain nyieun anak tapi nyieun enak. Lereus............!”

Sakumaha ceuk Qo’idah :


“ Nikmat dunya sadayana aya tilu
Nyabak nyieun ngasupkeun anu ngabeuntelu “
Tapi eta ni 'mat nikah teh ngan dua rebo kaditunamah deudeuieun saba’da ni’mat timbul nu kadua nyaeta Kaf (Karohah) hartosna pikangewaeun, pikasebeleun da ningali pamajikan resep soteh keur panganten anyar, ningali pamajikan teh jiga Shopia Laurent, jiga Lidia Kandau, jiga Krisdayanti, tapi lamun geus bereset budak tilu beulas mah, komo lamun ker gendut, ningali pamajikan jiga buntelan, keur panganten anyarmah, ningali pamajikan teh di teuteup ti hareup sieup, disawang titukang kenjang ditilik ti gigir leunggik, tapi ges bereset budak tilu belasmah beda deui bahasana. Di teuteup ti hareup jiga keyeup, disawang titukang jiga hurang, ditilik ti gigir jiga langgir di ukur tiluhur jiga undur-undur, diragap tihanap jiga hap-hap, tah ieu anu disebut Karohah teh tegesna pikangewaeun.

Salajeungna timbul nu katilu nyaeta Ha, ieu mah aya dua alternatif. Lamun nyanghareupan Karohah...lulus, maka Ha na teh hasanah teugeusna keluarga anu Mawadah Warohmah tur Sakinah (keluarga anu didasaran ku cinta jeng kasih sayang), tapi lamun nyanghareupan Karophah hanteu lulus maka Ha na teh Hazanah (keluarga nu awet rajet) anu didasaran kurasa egois jeng emosi.
Mudah-mudahan ieu panganten sing kalebeut keluwarga anu Mawadah Warohmah. Amiiin......!”

Hadirin rohimakumulloh...!”
Babak anu kadua nyaeta saha anu kudu nikah teh? Waleranana pidawuh rosul :
“wahai para pemuda …sing saha jalma anu geus sanggup di antara anjeun kabeh kana mere nafkah(dzohir batin) maka pek geura nikah”
Dina ieu hadist, rosul ngahimbau ka para pemuda, anu geus memasuki masa fuber, mun ceuk bahasa Indiana mah beuger eta mah rek si fery, si frengki, si jacky, kecuali aki-aki, anu geus sanggup nganafkahan dzohir jeng batin tegesna mah geus bisa
maraban biwir luhur jeung handap maka pek geura narikah.
Atuh pemuda anu ngan saukur rambut gondrong kerjaan nongkrong, bujal bodong hobi nampang tapi jajan ngutang, eta mah teu acan ka leubeut hadist rosul anu bieu.

Babak katilu : ka saha kudu nikah teh?
Walerannana nyaeta pidawuh Allah dina Al-Qur’an.


“ Maka kudu narikah maraneh kabeh kanu di pikacinta ku maraneh kabeh”
Dina ieu ayat Alloh marentah nikah teh kanu di pikacinta lain kanu geulis, lamun Alloh marentah nikah kanu geulis, maka awewe anu peunteun 3 ½ keur saha? jeung lamun Alloh marentah nikah kudu kanu kasep simkuring saha layanna. Tapi perlu kita garis bawahi anu di maksud ku geulis didie teh lain geulis ceuk si Mamat anu di ukur ku syahwat, tapi geulis mungguh Agama nyaeta anu dan din dun (pinteur dan-dan) din (alus agamana) dun (alus dunyana) lain anu dat dit dut.(goring adat) dit (pedit) dut (siga badut samutut ari jeung hitut) ngan eta anu dan din dun teh langka pisan di zaman kiwari mah tapi euweuh-euweuh teing mah te kudu hese nu penting bageur, pinter, beunghar, keun bae geulis oge.

Bapak ka opat : naon bae langkah-langkah saba’da nikah ?
waleran nana dawuaha Alloh dina Al-Qur’an :


“Perlakukeun istri-istri maraneh kabeh kalawan hade”
Tegesna mah salaki kudu bisa memperlakukeun istrina kalawan alus atuh salaki teh kudu apal kana haq jeng kawajiban nana, anu mana kawajibanna teh ngan aya opat :
1. Ngimahan sing pageuh
2. Makean anu weuteuh
3. Maraban sing nepika seubeuh
4. Ngendongan sing nepika reuneuh
Nya kitu deui, Istri sing apal kana hak jeung kawajibanna.
Anumana kawajibanana sami aya opat diantarana masak, diwedak, nangkarak, ngadengkak. Tah insya Alloh, upami duanana tiasa ngalaksanakeun kana tugas jeng kawajiban, bakal terwujud keluarga anu Mawadah Warohmah tur Sakinah nyaeta keluarga anu bahagia, keluarga anu didasaran ku cinta sareung kasih sayang, cindekna mah ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salogak, ka cai daraek ngaji, ka darat daraek sholat.
Se ia se kata, se iring sejalan, runtut raut sauyunan dugika paketrok iteuk, bahkan dugika poe Qiyamah.

Hadirin Rohimakumulloh…!”
Supaya ieu dua mempelai tetep renggenek dina sakinah Mawadah Warohmah sim kuring pesen :
• Sing yakin ieu jodo teh taqdir Alloh SWT. dihin pinasti anyar pinanggih ti barang saratus dua puluh dinteun anjeun aya dina patuangan ibu ku Alloh parantos di pastikeun yen jodo jang……bakal nikah ka neng…. Sing yakin dina hate supaya urang bisa tumarima kana kapastian Alloh
• Kudu husnudzon (hade sangka ka Alloh), bahkan ku jodo anu ieu urang bakal pinanggih jeung kabagjaan hirup,
ku jodo anu ieu urang bakal nyieun wasilah pikeun ngahontal Mardlotillah.
• Ieu aqad tikah teh sing jadi pertikahan anu pertama jeung anu terakhir, tegesna panungtungan masa pacaran, ti kawit ayeuna anjeun duaan lebet kana alam rimbitan, alam rumah tangga anu dibengkeut ku SSTB (Surat Tanda Tamat Bobogohan) sa ba’da nikah mah kudu bogoh nyaan.
• Ku aqad tikah indung bapa urang jadi nambahan nyaeta mitoha, dulur,lanceuk, adi, jeung anu liana
• Ku aqad tikah jadikeun sarana pikeun ibadah ka Alloh, ngabakti ka Alloh.

Hadirin rohimakumulloh…!”
Rupina cariosan ti sim kuring di cekapkeun sakieu bae kirang langkungna mah nyuhukeun dihapunteun, bobot sapanon carang sa pakan, sasieureun sabeunyeuren mudah-mudahan aya manfa’atna, anu terakhir ieu panganten urang du’a keun ku sadayana.

PANCA PRASETYA KORPRI


PANCA PRASETYA KORPRI
Kami Anggota Korps Pegawai Republik Indonesia adalah insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjanji :
1. Setia dan taat kepada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
2. Menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara serta memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia negara.
3. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan.
4. Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta kesetiakawanan Korps Pegawai Republik Indonesia.
5. Menegakkan kejujuran, keadilan dan disiplin serta meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme.







Makna Panca Prasetya Korpri
Kami anggota Korpri merupakan pernyataan dan janji secara sadar, ikhlas dan penuh tanggung jawab kepada diri sendiri, bagi mereka yang secara sah telah menempuh proses rekruitmen, pendidikan dan pelatihan, pengangkatan serta telah mengucapkan sumpah atau janji dan telah menandatangani ikatan kerja sebagai Pegawai RI. Oleh karena itu, anggota Korpri dapat dipercaya untuk memikul tugas atau jabatan pemerintahan. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Anggota Korpri dengan sepenuh jiwa mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah Sang Maha Pencipta, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ketakwaan yang diwujudkan ke dalam berbagai bentuk amal dan ibadah merupakan suatu pernyataan terima kasih yang luhur kepada Sang Maha Pencipta.
a. Prasetya Pertama Setia merupakan sikap batin. Dengan demikian setia dan taat kepada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan sikap batin anggota Korpri dan kesanggupannya mewujudkan dan mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Pada umumnya kesetiaan timbul dari pengetahuan dan pemahaman atas keyakinan yang mendalam terhadap sesuatu.
b. Prasetya Kedua Setiap anggota Korpri menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara. Menjunjung tinggi adalah mengangkat dan meletakkan sesuatu di atas kepala dengan tujuan menghormati atau menghargainya, kehormatan, menyangkut martabat, harga diri, nilai-nilai keluhuran seseorang atau sesuatu yang menjadi sumber keberadaannya. Dengan demikian, pengertian menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara ialah menjunjung tinggi norma-norma yang hidup pada bangsa dan negara Indonesia. Memegang teguh rahasia. Rahasia dapat berupa rencana, kegiatan atau tindakan yang akan, sedang atau telah dilaksanakan. Rahasia dapat menimbulkan kerugian atau bahaya apabila diberitakan kepada atau diketahui oleh orang yang tidak berhak. rahasia dapat berupa dokumen tertulis, seperti surat, notulen rapat, peta, dan dapat pula berupa keputusan atau perintah lisan atau rekaman suara dari pejabat yang berwenang. Rahasia ada yang bersifat sangat rahasia, rahasia, atau terbatas, ada yang kerahasiaannya terus menerus, ada rahasia negara dan rahasia jabatan. Rahasia Negara adalah rahasia yang ruang lingkupnya meliputi seluruh atau sebahagian besar kepentingan negara dan dibuat oleh pimpinan tertinggi negara. Rahasia Jabatan ialah rahasia mengenai atau yang ada hubungannya dengan instansi tertentu dan dibuat oleh pimpinan instansi yang bersangkutan. Karena jabatan atau pekerjaannya, pegawai RI yang menduduki jabatan tertentu mengetahui rahasia negara atau rahasia jabatan. Karena setiap kebocoran rahasia selalu menimbulkan kerugian atau bahaya, hendaklah menjadi kewajiban pegawai RI yang bersangkutan untuk memegang teguh rahasia negara atau rahasia jabatan yang diketahuinya atau yang dipercayakan kepadanya. Kewjiban memegang suatu rahasia berlaku terus menerus baik sewaktu masih aktif bekerja maupun sesudah pensiun. Memegang teguh rahasia, selain merupakan etik, juga merupakan kewajiban hukum yang terdapat di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
c. Prasetya Ketiga Kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan bergantung pada kualitas dan ketangguhan pegawai RI. Oleh sebab itu pegawai RI harus melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab dan harus memahami kebijaksanaan pemerintah dan menguasai peraturan perundang-undangan menurut bidangnya masing-masing. Setiap anggota Korpri mempunyai kedudukan dan peranan sebagai Abdi Negara dan Abdi Masyarakat. sebagai Abdi Negara hendaklah bekerja dengan ikhlas dan sungguh-sungguh menurut bidangnya masing-masing dalam rangka mencapai tujuan negara dan harus selalu mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Sebagai Abdi Masyarakat harus selalu memberikan layanan secara profesional yang sebaik-baiknya untuk memenuhi aspirasi dan kepentingan masyarakat menurut bidangnya masing-masing dengan cara mempercepat pemberian layanan yang diperlukan masyarakat dan memberikan penjelasan yang diperlukan masyarakat tanpa pamrih.
d. Prasetya Keempat Persatuan dan kesatuan bangsa merupakan efek sinergi dari saling ketergantungan antara berbagai unsur di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam rangka memelihara/memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, setiap anggota Korpri harus berusaha, antara lain : 1) Menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupannya sehari-hari. 2) Meningkatkan kerukunan hidup antar umat beragama dan kerja sama di antara rakyat Indonesia yang memeluk agama yang berbeda-beda dan menganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 3) Menghormati adat istiadat dan kebiasaan golongan masyarakat. 4) Meningkatkan kepedulian dan kesetiakawanan sosial, khususnya terhadap lapisan masyarakat yang tertinggal di dalam pembangunan. Kesetiakawanan Korpri merupakan sikap batin dari mereka yang merasa senasib sepenanggungan di dalam mencapai misi bersama yang diembannya. Setiap anggota Korpri harus memelihara kesetiakawanan Korpri. Setia kawan merupakan sikap positif dari mereka yang mempunyai tujuan yang sama dan mempunyai persamaan cara di dalam mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan kerjas ama personal, fungsional, profesional di antara anggota Korpri.
e. Prasetya Kelima Berjuang menegakkan/meningkatkan mengandung pengertian kesediaan untuk selalu berbuat sesuatu yang lebih baik secara terus menerus. Kejujuran bagi anggota Korpri ialah ketulusan hati di dalam melaksanakan tugasnya dan tidak menyalah gunakan wewenang yang diberikan kepadanya. setiap anggota Korpri harus bersikap dan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, adil dan bersemangat untuk kepentingan negara. Kesejahteraan merupakan salah satu tujuan nasional negara kita. Oleh karena itu, segenap anggota Korpri harus turut serta aktif dan dinamis di dalam meningkatkan kesejahteraan umum demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Pembangunan kesejahteraan pegawai RI dilakukan sebagai bagian yang menyeluruh dari pembangunan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Profesionalisme mengandung pengertian kesanggupan seseorang dalam menghayati, menguasai, mengerjakan suatu konsep/gagasan atau tugas yang dihadapi atau ditugaskan kepadanya. Disamping ilmu pengetahuan dan kemampuan, anggota Korpri hendaklah mempunyai kreativitas yang tinggi. Kreativitas mengandung arti kesanggupan atau keahlian seseorang dalam melahirkan berbagai gagasan, ide, konsep yang tepat, tepat guna dan hasil guna untuk keperluan atau penyelesaian sesuatu secara profesional

Jumat, 07 September 2012

RENUNGAN JIWA


RENUNGAN JIWA
Kuberjalan di tepian malam melihat bulan yang padam
kupandang dan kuterawang dengan mata yang tercengang
Ya Tuhan…………………………………….!
Apa yang harus aku bilang setelah lama aku tak datang
untuk sujud bersembahyang
Ya Tuhan …………………………………….!
Aku hambamu yang malang yang tak sadar akan hari mendatang hari yang menuntut pembalasan
Ya Allah…………………………………………!
Setiap pagi hingga malam aku selalu kunjung datang
ke tempat yang engkau larang
Ya Robbi…………………………………………!
Aku benci pada diri yang selalu mengingkari apapun
yang engkau beri
Ya Allah yang maha esa aku kecewa pada raga
yang selalu berbuat dosa
















MUNAJAT


Aku Menangis Di gelap malam Sirna kebahagiaan
Aku Berlari Di jalan tak bertepi Hanya untuk bersamaMu
Aku Mencari Cinta yang tak henti Diperaduan pun tak pasti
Aku
Rabb, adakah Kau berpaling dariku ???Penemuan Rohani
Berdiri Merenungi Nasib Menanti Hangatnya matahari
Sendiri Di hantui Pikiran nurani
Berlari Mencari Bayangan diri
Sunyi SepiTak terkendali

Naskah pidato bahasa indonesia


Naskah pidato bahasa indonesia



Assalamualaikum wr.wb
.
Bapak-bapak Guru beserta Ibu-ibu guru yang saya hormati , dan rekan-rekan siswa yang saya cintai.
Alhamdulillah…, dengan rahmat dan karunia Alloh swt. Pada hari ini kita dapat berkumpul bersama-sama di tempat ini saya akan mencoba berbicara dihadapan teman-teman dengan membawakan tema Memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Berbicara tentang pendidikan, berarti kita bicara tentang sesuatu yang sangat besar dan mendasar.  Saya katakan bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang besar dan mendasar, sebab hal itu menyangkut masalah kualitas bangsa. Sebab pendidikan berarti mempersiapkan kader-kader bangsa siap pakai yang sanggup meneruskan cita-cita bangsa Indonesia, yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Dalam alinea keempat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dijel;askan, bahwa Pemerintah Negara Indonesia berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa. Demikian pula dalam Pasal 31 UUD 1945 ayat 1 berbunyi “ Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran “ Pasal 31 ayat 2, Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pengajaran nasional yang diatuir dengan undang-undang “. Disinilah letak pentingnya pendidikan dan pengajaran bagi suatu bangsa.

Hadirin dan Dewan Juri yang saya hormati.
Berbicara tenteng pendidikan, tidak akan lepas  dari tokoh pendidikan Nasional, ialah Dr. Ki Hajar Dewantoro, dan konsep dasar bagi pendidikan menurut beliau ialah :
-        ING NGARSO SUNG TULODO.
-        ING MADYA MANGUN KARSO.
-        TUT WURI HANDAYANI.

ING NGARSO SUNG TULODO, artinya,
Seorang pemimpin lewat sikap dan perbuatannya, harus mampu menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Kalau menurut bahasa Al-Quran, yang terdapat dalam surat Al Ahzab ayat 21 dan surat Al Mumtahanah ayat 4, adalah USWATUN HASANAH = Ikutan yang baik.
ING MADYA MANGUN KARSO, artinya.
Seorang pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang-orang yang dibimbingnya. Seorang pemimpin harus dapat membangkitkan orang-orang yang dipimpinnya, semangat MAU dan MAMPU untuk berkarya. Kalau ini kita cari dalam Al Quran, Insaya Allah artinya tidak jauh dengan Firman-Nya:

( WA QULI’ MALUU FA SAYARALLAAHU AMALAKUM WA RASUULUH )

Artinya :
“ Katakanlah : “ Beramallah kamu sekalian, maka Allah dan Rasul-Nya akan melihatnya “. ( At Taubah 105 ).

TUT WURI HANDAYANI, artinya :
Seorang pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yang dasuhnya agar berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab. Hal ini dalam Islam dijabarkan dalam Shalat berjamaah, ialah Imamnya. Seorang imam ( Komamdan Shalat) bagaimanapun harus bertanggung jawab terhadap makmumnya. Kalau jamahnya bagus, pahala bagi imam tentu banyak, sebaliknya kalau jamahnya jelek, karena sebeblum shalat imam tidak mengatur makmumnya diapun harus bertanggung jawab.

Hal inmi sejalan dengan sabda Rosululloh saw :

( KULLUKUM RAA’IN WA KULLUKUM MAS-UULUN AN RA’IYYATIHI )

Artinya :
Kamu sekalian adalah pemimp[in dan kamu bertanggung jawab atas oran-orang yang kamu pimpin “. ( H.R. Muslim).

Itulah profil pemimpin yang baik menurut almarhum Dr. Ki Hajar Dewantoro, sebagai tokoh pendidikan Nasional.

Hadirin dan Dewan juri yang saya hormati,
Kita akui bersama, bahwa bagaimanapun baiknya seorang guru kalau tidak ada partisipasi dari murid dan wali murid, pasti pelaksanaan pendidikan tidak dapat berjalan dan berhasil seperti yang kita harapkan.

Oleh karena itu, kepada bapak-bapak dan ibu-ibu kami harapkan untuk ikut mendorong, mengawasi, dan membimbing putra-putrinya untuk ikut rajin belajar. Karena bagaimanapun di rumah waktunya lebih banyak dari pada di sekolah. Maaf Lho bu bukan menggurui.

Kemudian kepada rekan-rekan pelajar saya ingatkan, bahwa masa depanmu sangat ditentukan oleh bagaimana kita belajar sekarang. Yah belajar ilmu, belajar berkarya, belajar bermasyarakat, belajar berwiraswasta, dan masih banyak yang harus kita pelajari yang kiranya bermanfaat bagi kita dan bagi masyarakat, lakukan sedini mungkin. Kalau kita sudah menjadi orang pandai masalah apa saja tidak akan kemana larrinya, dia akan mencari kita , tetapi sebaliknya bila kita bodoh semua masalah yang kita cari justru lari, sulit untuk ditemukan.

Akhirnya, semoga Alloh swt. Memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita sekalian, sehingga kita mampu mengembangkan semangat pendidikan sesuai dengan agama dan bangsa.

Demikian uraian saya segala kelebihan itu milik Alloh, dan segala kekurangan milik saya, oleh karena itu saya mohon maaf.

Wallahul muwaffiq ilaa aqwamit thariq.
Wassalamualaikum wr.wb.

Narasi


Narasi

Baeu anaking, deudeuh teuing sugan teh lain kitu pamaksudan.
Samemeh ibu jeung mamah amanat ka hidep, ibu jeung mamah menta kasaksi ku kadang wargi katungkulan ku baraya nu biasa oge dulur-dulur anu matuh.
Anaking jimat ibu, mun diukur ku gunung moal aya kabungah ibu ayeuna, pangguar rasa, merelena eusi hate hidep nu dipedar bieu, ku ibu katarima pisan disuhun dina embun-embunan ditampi kuasta kalih, reueus, bagja, deudeuh nu taya papadana.
Anaking bener pisan  caritaan hidep the, ati moal mungkir rasa narima pisan, mungguh mahluk, waruga jalma kumelendang di alam pawenangan ieu dirarangkenan ku dua rupa perkara anu teu weleh papasangan, antara salah jeung bener antara hade jeung goring, pamustungannana babanding nu dipimilik ku diri urang gumantung niat jeung hate urang sorangan.
Hidep mangrupi hiji jirim diri nu ngarandapan, Ibu bagja, bungah amar watasuta.

Anaking puputan ati perkara rasa tumarima jeung pamenta hidep sangkan bapa ngahampura, bapa kacida kagagasna, teu sangka hidep geus bisa nembongkeun hiji ciri yen jalma kudu boga rasa tumarima, rasa rumasa beh dituna rasa tumarima kanu Maha Kawasa, sing gede hate anaking tong boro dipenta dalah dina henteuna pisan ku bapa moal burung dihampura, caang bula opat welas jalan gede sasapuan clik putih clak herang, ngan sawangsulna bapa salila hidep nutur waktu milang kori mapay kahirupan teu bisa nyugemakeun kanu jadi anak. Hampura anaking ! Sakali deui hampura.

Eneng, Asep Anak ibu, Anaking, itung-itung sosonoan nutur catur mungkas carita ibu rek wakca balaka ngedalkeun kabungah, rasa sasieureun sabeunyeureun, sakeprul bakatuleun, malah mandar manfaat keur hidep geusan alaeun jaga

Eneng, Asep Bapa seja wawadi ka hidep omat bisi lilir pikir nyasar lampah ulah leah gancang nyingkah antukna sok tiwas, sing pageuh mideudeuh ka deungeun, sing asih kasasama, sing gilig dina ati, sing tetela manjing rasa, jauh ditumbu ku umur anggang digantaran nyawa, Jauh mo burung cunduk anggang mo pasti kateang, ulah waas ku mangsa, ulah lilir ku wanci, najan lara tumekaning pati puput umur nepi ka kubur, omat hidep ulah jadi cara ka jalan tapi kudu carang ka jalan, ulah kurang akal pedah paanggang ulah leutik pikir pedah patebih. Omat bisi tambelar ka baraya, poho ka purwadaksi, sing inget nu ngajadikeun lantaran ge4larna hidep ka lam dunya. Indung tunggulna rahayu bapa tangkalna darajat.
Anaking, jimat awaking bral hidep diandung ku pangestu di jajap ku pangdu’a dina enggoning ngambah sagara kahirupan, sagara rumah tangga sing panggih jeung kabagjaan.
Anaking ! Cag sakieu heula, Hampura bapa, bral geura miang du’a bapa marengan hidep !

Anaking jimat bapa, mun diukur ku gunung moal aya kabungah bapa ayeuna pangguar rasa, merelena eusi hate hidep nu dipedar bieu, ku bapa katarima pisan disuhun dina embun-embunan, ditampi kuastakalih bapa reueus, bagja, deudeuh nu taya papadana, anaking!
Bener pisan caritaan hidep teh, ati moal mungkir rasa narima pisan, mungguh mahluk, waruga jalma  kumelendang di alam pawenangan ieu dirarangkenan ku dua rupa perkara  anu teu weleh papasangan, antara salah jeung bener antara hade jeung goring, pamustungannana babanding nu dipimilik ku diri urang gumantung niat jeung hate urang sorangan, nya diantarana pikeun ngalelemu kalbu, ngasah akal tarekah iwal ti ku nyorang sakola. Hidep mangrupi hiji jirim diri nu ngarandapan, bapa bagja , bungah amar watasuta. Anaking puputan ati perkara rasa tumarima jeung pamenta hidep sangkan bapa ngahampuara, bapa kacida kagagasna, teu sangka hidep geus bisa nembongkeun hiji ciri yen jalma kudu boga rasa tumarima, rasa rumasa beh diotuna rasa tumarima kanu Maha Kawasa. Sing gede hate anaking tong boro dipenta dalah dina henteuna pisan ku bapa moal burung dihampura, caang bulan opat welas jalan gede sasapuan, clik putih clak herang, ngan sawangsulna bapa oge guru-guru hidep nu sasat ngatik ngadidik di ieu sakola, salila hidep nutur waktu milang koro mapay kelas pastina loba pisan polah ngatik nu karasana teu merenah jeung lelembutan hidep, sepuh-sepuh hidep, hampuara bapa, anaking ! Sakali deui hampura. Ujang nyai anak bapa itung-itung sosonoan nutur catur mungkas papatah, bapa rek wakca balaka ngedalkeun kabungah, rasa sasieureun sabeunyeureun, sakeprul bakatuleun, malah mandar mangfaat keur hidep geusan alaeun jaga.
Bapa seja wawadi ka hidep omat bisi lilir piker nyasar lampah ulah leah gancang nyiongkah antukna sok tiwas, sing pageuh mideudeuh kadeungeun, sing asih kasasama, sing gilig dina ati, sing tetela manjing rasa, jauh ditumbu ku umur anggang digantaran nyawa. Jauh mo burung cunduk anggang mo pasti akteang, ulah waas ku mangsa, ulah lilir ku wanci, najan lara tumekaning pati puput umur nepi ka kubur, omat hidepulah jadi cara ka jalan tapi kudu carang ka jalan , ulah kurang akal pedah paanggang ulah leutikpikir pedah patebih, siar pangalaman najan kudu ngapak mega sup[rih pangarti najan kudu nerus bumi, malah mun isuk jaga ning geto hidep jadi papayung lembur omat bisi tambelar ka baraya, poho ka purwadaksi, sing inget nu ngajadikeun lantaran gelarna hidep ka alam dunya.
Indung tunggulna rahayu bapa tangkalna darajat. Anaking jimat awaking bral hidep diandung ku pangestu di jajap ku pangdu’a dina enggoning nungtut elmu nyuprih pangarti, nyiar luang sing kapetik hasilna kaala buahna geusan mangfaat keur balarea.
Anaking ! Cag sakieu heula,  hampuara bapa ! Bral geura miang du’a bapa marengan hidep !
Muga-muga Allah tinekanan nepangkeun urang di alam pangbalikan.
Bral-bral-bral……………..! Anaking……………………..!